Tampilkan postingan dengan label technology. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label technology. Tampilkan semua postingan

Senin, Mei 28, 2012

PENJADWALAN PRODUKSI (PPP 28052012)



makes on time delivery possible... .. ... .

Penjadwalan produksi terkait dengan inventory, biaya, lead time, dan pemesanan.

Inti penjadwalan produksi: harus lebih baik dari jadwal produksi perusahaan orang lain serta untuk menghindari masalah terkait, misalnya bentrok

Ilustrasi: agroindustri gula
Di pabrik tebu, bagian yang dibutuhkan adalah X% kandungan gula pada batang tebu di lahan; namun keberadaannya tercampur dengan ampas dan air pada batang. Agroindustri hanya mengambil bagian tertentu saja, dalam hal ini adalah kandungan gula. Kita harus mengetahui sifat perubahan gula di dalam tebu karena komoditas pertanian akan berubah terhadap waktu, contoh: mangga disimpan lama bisa kisut.
Jika ingin tahu umur tebu, kita harus tahu kapan lahirnya (saat tebu mulai ditanam-red). Ketika dipanen, itu berarti saat dia dibunuh, tetapi tetap hidup mendekati kematian. Kandungan gulanya berubah  sangat cepat dibandingkan saat hidup menjadi X’%. Oleh karena itu, perlu penjadwalan saat panen / tebang tebu yang tepat untuk memperoleh  kandungan gula yang maksimum. Setelah ditebang, tebu memiliki masa idle (menunggu untuk diangkut). Berikutnya, dilakukan pengangkutan dari lahan ke pabrik karena umumnya selalu ada jarak tertentu dari kebun menuju pabrik. Mesin dalam pabrik gula bekerja selama 24 jam. Dilakukan penggilingan tebu hingga diperoleh gula X’’%. Pabrik kita masih belum baik, yatu hanya sekitar 4/7 hasil dibandingkan dengan negara produsen gula dunia yang menghasilkan sebanyak 21/7. Jadi, diperlukan penjadwalan mengenai: berapa luasan, jarak, lama tunggu, dan lama proses yang optimum untuk memenuhi fungsi: meminimumkan lost: X- X’; X’-X’’.

TUJUAN PENJADWALAN PRODUKSI

  • MENEPATI WAKTU JATUH TEMPO (DUE DATES)
  • MEMAKSIMUMKAN PENGGUNAAN FASILITAS (MESIN-ORANG)
  • MENURUNKAN WIP (WORK IN PROSES) DAN SIKLUS WAKTU (CYCLE TIME) Ini terkait dengan produk setengah jadi, yaitu nira pada produksi gula. Jika banyak produk setengah jadi, berarti ada alat pada sistem yang tidak bekerja sehingga ada waktu menunggu --> perlu dihindari.

Tujuan-tujuan tersebut saling konflik, misalkan untuk menepati waktu jatuh tempo, diperlukan banyak fasilitas sehingga tujuan nomor 2 tidak tercapai.


MENEPATI WAKTU JATUH TEMPO (DUE DATES)
    1. Make to order à due date customer mempengaruhi semua due date
    2. Make to stock  à inventory level memicu produksi bagian produksi
NB: terminologi:
  1.  Service level (simply service); biasa di make   to order. Ini merupakan fraksi dari order yang ditepati pada / sebelum due date. Atau dapat diartikan juga fraksi dari job dalam cycle time ≤ perkiraan lead time.
   2.  Fill rate
  3.   Lateness. Ini merupakan selisih waktu jatuh tempo order dengan waktu selesainya (completion) pekerjaan.Jika mulai terlambat, selesai juga terlambat. Ada yang positif, nol, negatif.
  4.     Tardiness. Jika cepat, maka =0. Ini hanya memiliki nilai positif dan 0. Tardiness menunjukkan lateness dari pekerjaan jika terlambat, 0 jika tidak. NB: Kalau kita naik kendaraan diam sebentar di suatu tempat, kita tidak dimintakan biaya tambahan, tetapi untuk komoditas pertanian, menunggu adalah biaya.
  
     MEMAKSIMUMKAN PENGGUNAAN FASILITAS 
Misalkan mahasiswa TIN banyak yang lulus, tapi tidak dapat pekerjaan, sama saja tidak berguna. Jadi jangan menggunakan fasilitas terus-menerus jika produk tidak laku (menumpuk di gudang).


MENURUNKAN WIP DAN CYCLE TIMES
Keuntungan cycle time pendek: Antrian pendek (better responsiveness to customer), ilustrasi: restoran padang

CLASSIC SCHEDULING

  • Lama tidak bergantung jadwal
  • Mesin tidak mogok
  • Model deterministik
  • Tidak ada pekerjaan yang dibatalkan

Istilah: 
Makespan:jarak waktu penyelesaian
Jobshop: semacam bengkel

Mengapa penjadwalan sulit????

Penjadwalan melibatkan jumlah bilangan yang banyak
Problem classes:
  •    Class P problem
  •    ..... Ini terkait dengn permutasi, misalkan ABC menjadi ACB, BCA akan berbeda-beda.

Scheduling dan sequencing tidak dapat memperoleh waktu yang tercepat. Bedanya dengan polinomial, polinomial hanya berbeda sangat kecil (dalam hitungan detik) sehingga lebih baik.

HEURISTIK

Dari tidak eksak menjadi mendekati.
  • Good news -- > jadwal sulit masih bisa dinegosiasikan -> Jepang; contoh : Urutkan dengan siapa yang paling duluan : 10 setup (penggantian), 12 tardy job dengan nilai trilyunan.
  • Greedy algorithm: switch 5 dan 4, lebih baik  dan berkurang; dengan memutar-mutar bisa lebih baik sampai minimum.
  • Lebih baik lagi menggunakan Tabu search sampai tidak ada yang idle lagi
  • Shop floor scheduling ada di PO untuk menghitung berapa lama

Kamis, April 26, 2012

Konten Pembahasan Bioin Bioinsektisida

I. Bioinsektisida:
    pengertian
    keunggulan dan kelemahan dibandingkan dengan insektisida kimia
    aplikasinya


II. Bacillus thuringiensis aizawai
     sifat-sifatnya, bentuknya, produk yang dihasilkan (bahan aktifnya)
     enzim-enzim apa yang dihasillkan? fungsi enzimnya buat apa?
     faktor-faktor yang mempengaruhi pertumbuhannya



III. Proses fermentasi
      prosesnya bagaimana untuk kultivasi padat dan kultivasi cair?
      substrat apa yang digunakan (kandungannya)?
      kondisi fermentasi yang optimum seperti apa?
      faktor-faktor yang mempengaruhi fermentasi (padat dan cair) apa saja?



IV. Pertumbuhan Bt aizawai (berdasarkan data-data praktikum)
      perubahan pH
      OD
      VSC ( bandingkan hasil antara kultivasi padat dan kultivasi cair)
      Biomassa
      untuk point-point di atas (4 aspek) dibuat grafik dengan keterangannya di pembahasan, bahas data, serta bandingkan dengan literatur
      pengujian toksisitas (bioassay) --> cari dari literatur


V. Proses hilir (pengeringannya) --> pengaruhnya terhadap produk


dikumpulkan paling lambat tanggal 3 Mei 2012 pkl 13.00 WIB dan format bukan A,B seperti biasa melainkan angka, misalnya:
III Hasil dan Pembahasan
3.1 Hasil
[terlampir]
3.2 Pembahasan
3.2.1 (pembahasan mengenai bioinsektisida)
3.2.2 (pembahasan mengenai Bt aizawai) ...... dst

terima kasih dan selamat mengerjakan :)

Sabtu, April 14, 2012

Data pengamatan patgul

A. Pembuatan gula merah
tebu atas:
berat tebu : 4648,0 g
berat kulit : 1461,4 g
berat tebu setelah dikupas: 3186,6 g
nira:
volume : 1345 ml
pH: 5
kadar gula: 14
warna: coklat gelap kehijauan
rasa: manis tebu
aroma: tebu
gula merah
berat gula: 134,69 g
warna: coklat sedang
rasa: manis agak asam
aroma:

Pembuatan Gula Semut
jenis: gula aren
warna ???
aroma ???
rasa ???
berat: ? gram


Pembuatan Gula invert
asam tartarat
jenis: gula pasir
volume=103,5 ml
volume penambahan sodium bikarbonat= 5 (lupa 5x ato 5 ml) yang ini ragu euy


Analisis Gula
uji warna di oki
kekerasan: 24,42,14,13,41,42,69,25,64,20
bagian tidak larut air di alfian
gula pereduksi (data mentah): asnaquy (apa ya jenis gulanya?)= 14 ml; jaelani: 12 ml
gula pereduksi (metoda dns): ada di golongan
kadar sukrosa (data mentah): asnaquy= 2,4 ml; jaelani =2,5 ml 

Pembahasan Patgul

PEMBAHASAN PATGUL
A. GULA MERAH CETAK
1. Jelaskan mengapa kadar gula bagian bawah tebu berbeda dengan kadar gula bagian atas tebu
2. Jelaskan prinsip pembuatan gula merah cetak
3. Jelaskan tujuan penambahan CaO dan minyak pada pembuatan gula merah cetak
4. Jelaskan mengapa ada beberapa gula yang sulit dicetak
5. bandingkan hasil pembuatan gula merah cetak dengan SNI
6. Bahas hasil pengamatan


B. Gula Semut
1. Jelaskan prinsip pembuatan gula semut
2. Jelaskan mengapa ada beberapa gula yang sulit untuk mnegkristal
3. Bahas hasil pengamatan


C. Gula invert
1. jelaskan prinsip pembuatan gula invert
2. Jelaskan perbedaan apabila ditambahkan HCl dan asam tartarat sebagai penginversi pada pembuatan gula invert
3. Jelaskan tujuan penambahan sodium bikarbonat pada pembuatan gula invert
4. Bahas hasil pengamatan


D. Analisis produk gula
1. Jelaskan reaksi yang terjadi pada analisis gula pereduksi dengan metode Luff Schoorl
2. Jelaskan pernedaan metode DNS dengan metode fenol
3. Bahas hasil pengamatan dengan literatur yang mendukung


Mohamach Asnaquy dan Ludfi Oki Arifianto..
Pilih 5 pembahasan yang mau dibahas oleh masing-masing, dan pilih mau buat metodologi yg mana? 
pilihan:
1. pendahuluan + metode pembuatan gula merah + 5 pembahasan
2. metode analisis gula +  pembahasan


dikumpul ke aq paling lambat kamis pukul 23.35 ya
usahakan untuk tidak copas dari literatur, 
diperbolehkan co-pas-edit (sudah ada daftar pustakanya ya masing-masing bagian)
thx buat kerjasamanya,,
I'll trust you can do your best

Selasa, Maret 20, 2012

Semanis madu...

Madu..
Satu produk ini biasa digunakan untuk menggambarkan kemanisan, semanis madu, seperti itulah.
Bahkan panggilan sayang dalam bahasa Inggris pun salah satunya adalah honey yang dapat diartikan juga sebagai "madu". Sebenarnya ada apa dengan madu?

Honey..
This product is usually used to describe sweetness, as sweet as honey, which we usually hear. Moreover, one of our calling to our dear in English is "honey" too. It can be translatted as "madu" or "honey" too. What is "honey" actually?


Madu mengandung gula invert, yaitu kandungan glukosa dan fruktosa, yang merupakan gula yang tidak dapat mengkristal. Kemanisan glukosa adalah 74,3% jika dibandingkan kemanisan 100% gula kristal (sukrosa). Sementara, kemanisan fruktosa adalah sekitar 173% dibandingkan kemanisan sukrosa. Oleh karena itu, wajar jika kemanisan madu terkenal di mana-mana.

Honey is consist of invert sugar : glucose and fructose which are uncrystallized sugar. Sweetness of glucose is about 74,3% if compared with 100% sweetness of crystal sugar (sucrose ). Beside that, fructose' sweetness is approximately 173% of sucrose one. Therefore, it's can be understood that honey's sweetness famous everywhere.


Yakinkah anda bahwa madu yang anda miliki adalah madu asli? Cara mengujinya cukup mudah. Simpan saja madu tersebut di lemari pendingin. Jika terbentuk endapan di bagian dasar, dapat dipastikan itu bukan madu asli karena endapan itu adalah sukrosa yang mengkristal. Ini berarti produsen mencampur madu dengan gula. Jadi, sekarang anda sudah tahu kualitas madu yang anda punyai bukan?

Are you sure that honey which you have is pure honey? The way to test it is easy enough. Just store that honey in refrigerator. If there are sediment particles, it can be ensured that the honey is not the pure one because that sediment particle are crystallized sucrose. It means the producer mixed the honey with sugar. So, now, you have known the quality of honey you have, haven't you?


Selain kemanisannya, madu memiliki manfaat yang baik untuk kesehatan. Mengapa? Madu mengandung enzim alpha amilase dan enzim pencernaan yang baik untuk tubuh. Jadi, ayo mulai hidup sehat dengan mengkonsumsi madu :)

Beside of its sweetness, honey has good benefit for our health. Why? Honey contains alpha amylase enzyme and digestive enzyme which is good  for our body. So, let's start having healthy life by consuming honey :)


Sebagian informasi didapat dari  mata kuliah Teknologi Pati, Gula dan Sukrokimia

Minggu, Maret 18, 2012

-just say "CHEESE"-

Cheese atau keju merupakan pangan yang tidak asing lagi untuk kita,, tapi sudahkah kamu tahu sejarah dan teknologi keju? Mari kita simak.
Tahukah kamu, kalau awalnya keju dibuat secara tidak sengaja? Pada jaman dulu, seseorang yang bepergian di padang gurun membawa susu dan ditaruh di kantung kulit dekat pelana untanya. Karena di padang gurun, suhu sangat tinggi (panas). Selain itu, selama perjalanan, unta berjalan dengan menimbulkan guncangan terhadap susu yang ditaruh di kantungnya. Alhasil, sewaktu sang pengendara itu beristirahat dan hendak meminum susunya, susu itu telah berubah menjadi bentuk gumpalan-gumpalan. Rasanya enak dan lebih awet. Itulah keju. Akhirnya, produk keju dapat berkembang.

Mengenai teknologi dan hasil penelitian para ilmuwan, keterangan mengenai benda bernama "keju" dapat kamu baca di bawah ini. Bolehlah kamu membacanya sambil menikmati keju kesukaanmu :)

            Keju merupakan dadih susu yang digumpalkan dengan menggunakan aktivitas enzim yang diikuti dengan pemisahan “whey” dari koagulan yang terbentuk untuk menghasilkan dadih yang lebih padat dan kompak. Definisi lain menurut FAO yaitu keju merupakan produk segar atau peram yang dihasilkan dengan pemisahan cairan (whey) dari koagulan setelah penggumpalan susu, krim, skim, susu mentega atau kombinasi-kombinasi di antaranya. Keju “whey” tidak tercakup dalam definisi tersebut, melainkan keju yang terbentuk melalui pemekatan atau penggumpalan “whey” dengan atau tanpa penambahan susu atau lemak susu (Daulay, 1991). Jadi, secara sederhana, keju dapat didefinisikan sebagai produk pangan dari hasil penggumpalan (koagulasi) protein susu.
            Berdasarkan definisi tersebut, terlihat bahwa bahan baku untuk pembuatan keju adalah susu. Susu yang biasa digunakan adalah susu sapi. Namun, jenis susu hewani yang lain juga dapat digunakan. Contohnya adalah susu unta, kambing, domba, kuda, dan kerbau. Keju yang terbuat dari susu tersebut lebih menjadi keju lokal. Selain itu, sumber bahan baku lainnya adalah susu nabati yaitu susu kedelai. Keju dari susu kedelai ini merupakan susu rendah lemak dan tinggi protein.
            Dari bahan baku susu tersebut, terdapat kandungan-kandungan yang dimanfaatkan. Pertama, protein susu (casein). Casein ini terdiri atas beberapa fraksi yaitu alpha-casein, betha-casein, dan kappa-casein. Ini mengandung komposisi asam amino yang dibutuhkan tubuh. Dalam kondisi asam (pH rendah), kasein akan mengendap karena memiliki kelarutan (solubility) rendah pada kondisi asam. Kedua, lemak susu. Ini akan membentuk citarasa, aroma dan tekstur pada keju. Komponen mikromolekul pada lemak susu ini beberapa berupa disliserida, tetapi lebih banyak trigliserida yaitu C4-C18, C18-1, C18-2, C 20-2, C 20-3. Ketiga, lipida yaitu lesitin, sefalin, dan spingomilin. Kelompok ini terdiri dari sterol serebrosida dan terutama fosfolipida (senyawa konjugasi). Fosfolipida dapat berfungsi sebagai jangkar atau lapis pelindung terhadap serum susu. Keempat, laktosa yaitu gula susu. Hidrolisis komponen ini merupakan bagian penting dalam pembuatan keju karena memecah laktosa menjadi asam laktat dan menghasilkan substansi lain (asetilmetil-karbinol dan diasetil) sebagai komponen pembentuk citarasa keju. Selain itu terdapat juga vitamin (B,C,D,E, dan K) dan mineral (kalsium, magnesium, natrium, kalium, fosfat, sitrat) (Daulay, 1991).
            Susu sebagai sumber bahan baku perlu dibantu oleh mikroorganisme untuk dapat diolah menjadi keju. Mikroorganisme yang biasa digunakan adalah bakteri ataupun kapang. Selain menggunakan bakteri, dapat digunakan enzim. Bakteri ataupun enzim ini, disebut sebagai rennet (Wikipedia,2010). Bakteri yang biasa digunakan adalah Lactobacillus sp., Streptococcus thermophillus, Lactococcus lactis dan Leuconostoc mesenteroides. Enzim yang digunakan adalah enzim protease, fosfatase, lipase, dekarboksilase, transaminase dan  renin. Selain itu, dapat digunakan tambahan bantuan dengan H2O2.
            Pembuatan keju meliputi beberapa tahapan. Pertama, tahap pasteurisasi. Ini merupakan tahapan pemanasan pada temperatur spesifik sehingga tidak terjadi kontaminasi. Tahapan ini hanya terjadi secara fisik, tidak terjadi konversi kimiawi. Tahap ini dapat digantikan dengan penggunaan H2O2, bahkan lebih menguntungkan. Ini bermanfaat dalam mereduksi jumlah kuman patogen dan menginaktivasi enzim katalase dan peroksidase, serta tidak mempengaruhi keaktifan enzim lipase, protease, dan fosfatase (Saru dkk., 2004). Ini dapat memperbaiki tekstur dan memusnahkan mikroba-mikroba yang tidak dikehendaki. Praktik penggunaannya adalah 0,02% (dari 100 % H2O2), ditambahkan langsung ke dalam tangki-tangki susu pada suhu 30-31ºC dan dibiarkan 20 menit sebelum ditambahkan katalase sampai 20 ppm.
            Tahap yang kedua adalah tahap penggumpalan casein (protein susu) dengan menggunakan koagulan enzim. Enzim yang bersifat proteolitik akan memecah protein-protein dalam susu sehingga menjadi tidak larut dan membentuk suatu gumpalan massa yang didalamnya terperangkap komponen-komponen susu lainnya (Daulay, 1991). Penambahan rennin pada susu yang akan diolah menjadi keju (umumnya bersuhu 32°C), akan menyebabkan ber langsungnya reaksi 2 langkah, yaitu langkah enzimatis dan langkah non enzimatis. Mekanisme prosesnya adalah rennin memecah ikatan fenilalanin-metionin (105-106) dalam K-kasein sehingga menghancurkan aktifitas penstabilannya terhadap α dan β-kasein. Para-K-kasein
yang dihasilkan kemudian menggumpal dengan adanya ion-ion kalsium.

                                    rennin
            K-kasein                                  para-K-kasein + glikomakropeptida

                                                                                            (larut whey)
                                       pH 6,0-6,4
            para-K-kasein                          dikalsium para-K-kasein


Akibat dari tidak stabilnya K-kasein dan adanya kontak dengan kalsium, α dan β -kasein dipisahkan dari suspensi membentuk gel yang lunak dan lembut. Makropeptida yang terbentuk merupakan suatu makropeptida yang mengandung gula amino, dan dengan demikian dikenal sebagai glikomakropeptida. Mekanisme protease selain rennin dalam penggumpalan susu mengikuti pola yang mirip dengan rennin (Daulay, 1991).
            Setelah tahapan ini, dilakukan pemisahan whey, pencetakan, pengepresan serta pemeraman. Selama pemeraman, terbentuk perubahan-perubahan (konversi) yang menyebabkan  citarasa, tekstur dan aroma yang spesifik. Perubahan-perubahan secara kimiawi meliputi pemecahan protein menjadi peptida dan asam amino yang sederhana, pemecahan lemak menjadi beberapa asam lemak yang mudah menguap yaitu asam asetat dan propionat, pemecahan laktosa yang menghasilkan asam laktat, sejumlah kecil asam volatil dan etanol, serta pemecahan sitrat dan senyawa organik lainnya menjadi bermacam-macam asam, ester, dan senyawa-senyawa pembentuk flavor dan aroma yang mudah menguap.
            Selain tahapan-tahapan tersebut, secara garis besar, proses pembuatan keju dibagi menjadi dua macam proses, yaitu proses fermentasi dan proses dengan penambahan asam. Pada proses penambahan asam, asam ditambahkan ke dalam susu yang telah disterilisasi (dipasteurisasi) untuk menurunkan pH. Pada umumnya asam yang digunakan adalah asam laktat atau asam asetat. Selanjutnya enzim rennet ditambahkan untuk mengkoagulasikan (menggumpalkan) kalsium kaseinat pada susu pada pH 5,5-6,9.
            Keuntungan dari proses penambahan asam adalah pembuatan keju membutuhkan waktu yang singkat dan asam mudah diperoleh dengan harga yang relatif murah. Sementara, kerugian dari proses ini adalah tekstur keju yang dihasilkan tidak tahan lama (lembek, terlalu lembut, mudah meleleh). Hal ini disebabkan karena terjadi reaksi asam basa antara asam dengan kalsium sehingga jumlah kalsium di dalam susu (jumlah kalsium yang berikatan dengan kasein) menjadi lebih sedikit / berkurang.
            Proses kedua, yaitu dengan fermentasi, menggunakan bakteri sebagai starter. Jenis keju tertentu menggunakan bakteri yang tertentu pula. Starter tersebut ditambahkan ke dalam susu segar yang telah dipasteurisasi. Bakteri tersebut akan mengubah laktosa (gula susu) di dalam susu menjadi asam laktat supaya pH dalam susu akan turun. Setelah itu, ditambahkan enzim rennet untuk mengkoagulasikan kalsium kaseinat sehingga susu menggumpal pada pH 4,6 - 4,9. Proses ini meliputi tahap pasteurisasi, fermentasi, curd production, pematangan curd, dan pressing.
Reaksi yang terjadi di tangki starter dan fermentasi adalah sebagai berikut :
Laktosa          +            air       Æ          asam laktat     +         biomass
            C12H22O11          0,7453 H2O                 3,4855C3H603          1,5436 CH1,6700,835
 Pada tahap curd production, susu yang telah terfermentasi dipompa menuju tangki dan ditambahkan enzim rennet yang dapat menyebabkan terbentuknya gumpalan yang selanjutnya disebut curd dan bagian cair yang terpisah yang selanjutnya disebut whey. Penambahan rennet juga diikuti dengan pengadukan dan pemanasan agar larutan homogen dan enzim dapat bekerja lebih optimal dengan adanya pemanasan tadi. Selanjutnya, tahap pematangan curd yaitu pemisahan curd dan whey, lalu curd dibalik-balikan dan diperkecil ukurannya serta ditambahkan garam. Tahap akhir yaitu pressing dimana curd dipress menjadi balok-balok yang telah siap untuk disimpan di gudang penyimpanan.
            Keuntungan dari proses fermentasi ini adalah tekstur keju yang dihasilkan lebih tahan lama (lebih stabil) sehingga keju tidak lembek, tidak mudah meleleh, dan tidak mudah rusak. Kerugiannya adalah proses pembuatan keju membutuhkan waktu yang lebih lama karena diperlukan starter untuk melakukan proses fermentasi keju. Selain itu, dibutuhkan perhatian yang lebih untuk mengawasi pembuatan starter dan pembiakan serta pertumbuhan bakteri dalam starter (Anonim, 2010).

DAFTAR PUSTAKA
Anonim. 2010. Desain Proyek Keju Cheddar. digilib.ubaya.ac.id [10 Oktober 2010]
Daulay, Djundjung. 1991. Buku / Monograf Fermentasi Keju. Bogor: IUC FN IPB.
Saru, Amran dkk.2004. Bioteknologi dan Aplikasinya di Berbagai bidang: Suatu Tinjauan Umum. Bogor: IPB Press.
Wikipedia. 2010. Keju. id.wikipedia.org [10 Oktober 2010]

Kamis, Maret 08, 2012

-Ubi Cilembu-

Tahukah Anda tentang ubi Cilembu? Tentunya kalau Anda pernah singgah ke Jawa Barat,  Indonesia, Anda tidak akan asing dengan nama ubi ini. Anda dapat menemuinya di banyak tempat penjual oleh-oleh makanan di pinggir jalan. Tampilan ubi Cilembu adalah sebagai berikut.

Do you know about ubi Cilembu (Cilembu sweetpotato)? If you have ever visited West Java in Indonesia, of course you have been familiar with this food. You can meet these in many shop in the side of the road. This is ubi Cilembu.

(bisnisukm.com)

Ubi Cilembu merupakan satu jenis ubi jalar khusus, yang banyak tumbuh di daerah Cilembu, Sumedang. Berbeda dengan kebanyakan ubi jalar yang diolah dengan cara dikukus atau direbus, ubi Cilembu ini diolah dengan cara dibakar/dipanggang. Rasanya sangat nikmat, bahkan sangat manis. Saat Anda membukanya, Anda akan melihat cairan yang seperti madu seperti pada gambar di bawah ini.

Ubi Cilembu is one special sweetpotato, that mainly produced in Cilembu, Sumedang. It is different from another variety of sweetpotato, that often being boiled or steamed, because it is usually cooked by roasting. Its taste is very delicious and so sweet, more sweet than another one. When you open it (break it), you will find honey-like liquid. You can see it at this picture.
(salafiyunpad.wordpress.com)

Mengapa ubi Cilembu dapat seperti itu dengan cara dibakar/dipanggang? Bu T.C. Sunarti menjelaskan bahwa ubi Cilembu ini termasuk salah satu sumber pati di Indonesia. Pada saat dibakar/dipanggang sekitar suhu 60' C, akan terjadi reaksi in situ di dalam ubi. Reaksi ini dikerjakan oleh enzim beta-amilase. Akibat reaksi ini, pati di dalam ubi akan terhidrolisis parsial membentuk maltosa. Maltosa merupakan disakarida yang terdiri dari dua molekul glukosa, dan memiliki sifat seperti madu (honey substitute). Oleh karena itu, tidak mengherankan jika ubi Cilembu memiliki rasa manis yang lezat seperti madu. Jadi, sudah tahu kan alasannya mengapa ubi dapat mengeluarkan madu? Silakan menikmati dan melanjutkan makan ubi Cilembu ^_^

Why ubi Cilembu can be like that after being roasted? Mrs. Sunarti explained that ubi Cilembu is one of starch sources in Indonesia. When it's being roasted at approximately 60' C, there will be "in situ" reaction inside the sweetpotato. This reaction is done by beta-amilase enzym. This reaction makes starch of the sweetpotato hidrolized partially and form maltose. Maltose is disaccharide formed by two glucose molecules, and has a honey-like taste (honey substitute). Therefore, it can be explained logically why ubi Cilembu has delicious sweet taste like honey. So, you have known the reason why ubi Cilembu produce honey-like liquid, haven't you? Now, please enjoy and continue eating Cilembu sweetpotato ^_^

learned from Mrs. Titi C. Sunarti   

Jumat, Desember 09, 2011

di balik benda bernama eye shadow

            Eye shadow adalah salah satu jenis kosmetik yang biasa digunakan untuk mewarnai kelopak mata sehingga terbentuk bayangan yang baik. Eye shadow yang baik memiliki sifat mudah digunakan secara halus dan mempunyai daya adhesi yang bagus untuk kulit, tidak mengalami perubahan warna, tidak menciptakan noda ketika terkena keringat. Selain itu, eye shadow tidak berminyak ketika digunakan.
            Umumnya eye shadow tersedia dalam bentuk padat, berupa serbuk; stik yang berbasis minyak; atau pensil. Namun, saat ini eye shadow dapat dijumpai dalam bentuk cair pasta yang berbasis minyak maupun berupa emulsi. Bentuk emulsi ini dapat berupa o/w atau w/o, tergantung pada jenis emulsifier yang digunakan. Untuk kecenderungan kebutuhan pemakai, eye shadow tipe w/o lebih dibutuhkan. Hal ini disebabkan oleh kebutuhan produk yang tahan air, baik itu  terhadap keringat, air mata, maupun air hujan. Dengan tipe w/o, fase luar yang bersentuhan dengan kulit adalah fase minyak sehingga kebutuhan ini dapat terpenuhi. Akan tetapi, hingga saat ini, eye shadow yang diproduksi cenderung bertipe o/w.
            Bahan-bahan yang digunakan dalam pembuatan eye shadow tipe emulsi terbagi menjadi tiga jenis. Jenis pertama adalah bahan serbuk. Bahan ini terdiri atas talk 10%, kaolin 2% dan pigmen 5%. Jenis kedua adalah fase minyak/lemak. Jenis ini meliputi asam lemak stearat 3%, isopropil miristat 8%, parafin liquid 5%, propilen glikol monolaurat 3%, antioksidan dan sedikit parfum. Jenis ketiga adalah fase air berupa air murni sebanyak 56,8%. Selain tiga bahan utama tersebut, terdapat juga bahan lain seperti butilen glikol 5%, gliserin 1%, trietanol amin 1,2%, pengawet dan sequestering agent (Winanti, 2011).
            Dari jenis bahan tersebut, bahan yang penting untuk membuat emulsi eye shadow adalah trietanol amin. Trietanol amin (TEA) adalah cairan pekat yang tidak berwarna atau kuning pucat pada suhu ruang. Bahan ini memiliki kemurnian 99% dengan pH tinggi, serta larut dalam air (Patel, 2011). Bahan ini akan bereaksi dengan asam stearat membentuk trietanol amin stearat yang berfungsi sebagai emulsifier. Emulsifier ini termasuk dalam jenis emulsifier o/w (Wasitaatmadja, 1997). Emulsi yang dibuat dengan emulsifier ini lebih murah, lebih mudah dibuat, lebih enak dipakai karena tidak begitu lengket, lebih cepat menyebar di kulit dan lebih dingin. Jenis emulsifier ini cocok digunakan dalam eye shadow bentuk cair pasta (krim) karena memiliki sifat yang lebih lambat mengeras. Dengan begitu, stabilitas sediaan lebih tinggi (Darijanto et al. , 2007).
            Untuk menghasilkan warna yang bervariasi, eye shadow menggunakan pigmen. Pigmen yang digunakan dapat berupa pigmen organik ataupun anorganik. Umumnya, pigmen anorganik berupa titanium dioksida yang dilapisi mika banyak digunakan. Ini dibutuhkan untuk memperoleh varian warna yang lebih luas. Proses yang dibutuhkan dalam pembuatan pigmen ini adalah penghalusan titanium dioksida dan mika disertai pengadukan sampai tercipta warna yang homogen (Anonim, 2011).
            Bahan tambahan berupa pengawet juga diberikan untuk memperpanjang umur simpan produk. Produk eye shadow emulsi mengandung cairan sehingga memiliki risiko tercemari oleh mikroba. Oleh karena itu, cairan emulsi dilindungi oleh pengawet sehingga mikroba tidak tumbuh. Selain itu, terdapat juga penambahan aktioksidan dari fase minyak. Ini memiliki kegunaan mencegah oksidasi dari asam stearat dan pigmen sehingga emulsi stabil dengan warna yang tetap konstan.
            Proses untuk memproduksi eye shadow tipe emulsi dimulai dengan persiapan masing-masing bahan. Bahan serbuk dicampur hingga homogen. Bahan fase minyak dibuat menjadi larutan pada suhu 75-800C. Sementara, bahan-bahan fase air dibuat pada suhu 70-750C. Bahan serbuk dicampur dengan bahan fase air. Setelah itu, dilakukan pencampuran dengan fase minyak. Umumnya, unit operasi ini dilakukan menggunakan homomixer. Produk emulsi ini diberi perlakuan pendinginan hingga mencapai suhu kamar dan dipress dalam wadah eye shadow (Winanti, 2011). 
            Terdapat beberapa pengujian yang dapat dilakukan dalam produk ini. Uji yang paling utama adalah uji stabilitas emulsi. Uji ini diperlukan untuk mengetahui berapa lama produk ini akan stabil selama penyimpanan. Untuk penggunaannya, dibutuhkan waktu simpan yang panjang karena kecenderungan pemakaian yang lama habis. Oleh karena itu, diperlukan stabilitas yang tinggi. Harapannya, produk eye shadow ini tidak mengalami creaming ataupun koalesen selama penyimpanan.
            Uji berikutnya yang biasa dilakukan dalam pengujian produk eye shadow adalah uji dispersi pewarna. Uji ini penting dilakukan karena perwarna yang digunakan cenderung lebih banyak dibandingkan dengan jenis produk lainnya. Jika pewarna tidak terdispersi dengan baik, akan muncul garis pada wajah konsumen. Pencetakan pun akan lebih sulit.
            Uji kesesuaian bayangan juga perlu dilakukan. Uji ini dilakukan untuk memastikan bahwa spesifik bayangan pada setiap batch sama dengan batch sebelumnya. Pada uji ini, dilakukan perbandingan produk dengan produk sebelumnya yang telah diterima sebagai standar bayangan partikular yang diproduksi. Ini harus dilakukan pada tempat dengan cahaya yang standar. Warna bayangan akan terkait dengan dispersi warna dan jumlah minyak.
            Emulsi eye shadow juga perlu diuji secara mikrobial untuk memastikan tidak ada kontaminasi sepanjang proses produksi. Pengujian ini dilakukan pada sampel produk sebelum pencetakan (Tandiarrang, 2011).
            Uji untuk aplikasi eye shadow meliputi uji lekatan dan uji hedonik.  Uji lekatan (patch test) merupakan uji iritasi dan kepekaan kulit yang dilakukan dengan cara mengoleskan sediaan uji pada kulit normal panel manusia untuk mengetahui apakah sediaan tersebut dapat menimbulkan iritasi pada kulit atau tidak. Sementara, uji kesukaan (hedonic test) adalah pengujian terhadap kesan subyektif yang sifatnya suka atau tidak suka terhadap produk ini. Pelaksanaan uji ini memerlukan dua pihak yang bekerja sama, yaitu panel dan pelaksana. Jumlah panel uji kesukaan yang semakin banyak semakin baik, sebaiknya melebihi 20 orang. Jumlah yang lebih besar akan menghasilkan kesimpulan penerimaan pasar yang lebih valid.
            Pengembangan yang dapat dikerjakan untuk produk eye shadow adalah pembuatan eye shadow tipe w/o. Ini diperlukan untuk memenuhi kebutuhan konsumen, sesuai yang telah dijelaskan sebelumnya. Untuk membuat tipe emulsi ini, diperlukan emulsifier w/o. Salah satu jenis yang dapat digunakan adalah polygliceryl oleat. Emulsifier ini memiliki titik didih >3000F dengan warna kuning, cukup stabil dan tidak berbahaya (Anonim, 2011). Ini merupakan jenis nonionik (netral).
            Pengembangan lain yang dapat dilakukan adalah variasi warna, misalnya pemberian efek glitter. Hal ini dapat dilakukan dengan penggunaan mika mutiara saat pembuatan pigmen dengan titanium dioksida. Jika ingin didapatkan efek warna perak atau keemasan, dapat ditambahkan dengan serbuk metalik seperti aluminum dan perunggu.
            Selain itu, pengembangan yang dapat dilakukan adalah pembuatan produk kosmetik multifungsi. Karakter dan formulasi eye shadow umumnya tidak berbeda jauh dengan blush on (perona pipi). Oleh karena itu, dapat dibuat produk emulsi berupa krim yang aplikasinya dapat digunakan sebagai eye shadow ataupun blush on. Produk ini akan lebih efisien dan praktis untuk konsumen yang sering bepergian.


Sumber:
Anonim. 2011. MSDS Polyglyceryl Oleat. http://www.makingcosmetics.com/msds1/ msds-polyglyceryl-oleate.pdf [5 Desember 2011]
Anonim. 2011. Pressed Powder Eye Shadow "Nude Glitter".  http://www.makingcosmetics.com/formulas-6.html [4 Desember 2011]
Darijanto, Sasanti T et al. Pengembangan Sediaan Kosmetika Asam Glikolat dalam Bentuk Krim dan Gel serta Uji Stabilitas Sediaan. Jurnal Acta Pharmaceutica Indonesia, Vol. XXXII, No. 1, Maret 2007.
Patel, Ramesh. 2011. Surfactants and Emulsifiers. http://www.indiamart.com/matangiindustries/surfactants-and-emulsifiers.html [5 Desember 2011]
Tandiarrang, Mardianti. 2011. Evaluasi dan Aplikasi Eye Shadow. http://mardiantitandiarrang.blogspot.com/2011/03/evaluasi-dan-aplikasi-eye-shadow.html [4 Desember 2011]
Wasitaatmadja, S.M. 1997. Penuntun Ilmu Kosmetik Medik. Penerbit Universitas Indonesia, Depok.
Winanti, Tri. 2011. Kosmetik Dekoratif. http://www.scribd.com/doc/54247108/ Kosmetik-Dekoratif [4 Desember 2011]