Selasa, Oktober 30, 2012

TBC (Tuberkulosis)


TBC (Tuberkulosis), siapakah yang mau menderita penyakit itu?
Tentu tidak ada seorangpun yang menginginkannya, termasuk aku (waktu itu) ataupun para penderita yang lainnya. Namun, tidak bisa dipungkiri bahwa TBC atau biasa disebut juga dengan TB, adalah penyebab kematian kedua di Indonesia setelah stroke. Bahkan di dunia, Indonesia termasuk negara ke-4 terbesar yang warganya menderita TBC setelah India, Cina, dan Afrika Selatan. Diperkirakan ada 430.000 penderita TB baru dan 169 orang di antaranya meninggal setiap hari (Abd, 2012). 



Tuberkulosis merupakan penyakit yang disebabkan oleh bakteri yaitu Mycobacterium tuberculosis. Bakteri ini dapat menyerang beberapa bagian organ tubuh, misalnya paru, tulang, sendi, usus, saluran kemih, dan lain-lain. Namun, TB yang paling sering dibicarakan adalah TB paru. Perbedaan antara TB paru dan TB tulang yang saya dengar dari kenalan saya adalah TB paru memiliki potensi untuk kambuh lagi, sedangkan TB tulang tidak.

TB bukanlah penyakit baru, bahkan tokoh "Maria" yang saya sukai dalam novel Layar Terkembang karya Sutan Takdir Alisjahbana pun meninggal karena penyakit TBC. Padahal novel tersebut merupakan sastra di sekitar tahun 1930-an. Hanya saja, pengobatan TB sekarang lebih baik dibandingkan dengan jaman itu karena pada jaman itu, penderita TB akan diasingkan di sanatorium. Hal ini dikarenakan TB dapat menular akibat bakteri yang dapat tersalurkan melalui udara ataupun peralatan makan minum yang digunakan bersama. Mengenai hal ini, akan ada ulasa yang harus kalian baca di akhir. Jadi, jangan stop membaca di sini.

Di sini aku akan memaparkan hal-hal terkait TBC yang aku tahu dari yang aku alami. Aku baru tahu bahwa aku menderita TB Paru pada bulan Maret 2010. Sebelumnya aku tidak mengetahuinya, karena sebenarnya aku batuk-batuk sejak bulan Desember. Aku pikir itu biasa saja karena aku memang sering batuk, setidaknya 2 minggu dalam setahun saat musim penghujan. Pada bulan Januari, saat batuk, aku merasa sesak  di bagian perut yang menjalar ke dada, seperti perut yang tertarik ke bagian atas. Pada saat mengikuti kegiatan mahasiswa di Surabaya, trainer-ku yang kebetulan mahasiswa kedokteran UnAir menyarankan aku untuk memeriksakan diri ke dokter, sambil memberikan vitamin selama aku mengikuti training. Awalnya, dokter yang memeriksaku memberikan obat batuk biasa karena katanya paru-paruku infeksi akibat batuk yang terlalu lama tidak diobati. Namun, setelah satu bulan lewat, aku bukannya sembuh, melainkan batukku semakin parah. Akhirnya, aku periksa ke dokter di Bogor. Awalnya, dokter memberikan obat batuk biasa dan multivitamin untuk 3 hari-1 minggu. Awalnya, diagnosis awal dokter, kalau tidak TB Paru, bisa jadi kanker paru. Namun, melihat usiaku, sepertinya TBC. Akhirnya aku menjalani rontgen dan tes laboratorium. Hasilnya menunjukkan bahwa aku positif menderita TBC. 

Mengetahui aku positif TBC membuatku terpuruk saat itu, karena aku berpikir bahwa itu merupakan kondisi yang menakutkan. Aku masih bertahan dengan kondisiku untuk kuliah, tetapi kelamaan aku tidak sanggup menerima efek psikologis dari penyakit itu. Kondisi batukku yang sangat parah kurasa mengganggu dosen yang sedang menerangkan bahan kuliah di depan dari cara pandangnya padaku. Selain itu, salah satu teman dekatku melihatku dengan tatapan yang sangat menunjukkan keprihatinan. Itu membuatku merasa sangat bersalah karena membuatnya mencemaskanku dan dia tidak konsentrasi dengan kuliahnya. Selain itu, aku merasa aku tidak bisa berkonsentrasi mendengarkan penjelasan dosen sepanjang kuliah. Terlebih, saat aku diperhadapkan dengan aturan tidak boleh minum selama perkuliahan, padahal aku butuh air minum saat aku batuk. Membawa obatku dan meminumnya di kantin kampus sungguh membuatku malas, terlebih lima jenis obat yang harus aku minum. Beberapa teman dekatku menunjukkan perubahan sikap padaku, terkesan agak menjauh atau agak aneh, walaupun tidak semuanya. Aku tahu itu hal yang wajar, bahkan mungkin akan aku lakukan jika aku di posisinya waktu itu karena takut tertular. Yah, alasan yang logis bukan? Tapi, bagaimanapun, itu menyakitkan hati. Ingin sekali aku berkata, "Teman, aku masih manusia. Aku tahu kalian takut tertular, tapi... aku sendiri tidak menginginkan penyakit ini, sungguh! Bagaimana perasaan kalian kalau kalian menjadi aku? Tidak bisakah kalian bersikap seperti biasanya padaku?" Ya, itulah yang ingin kukatakan saat itu. Hal itu mengganggu pikiranku sehingga sakitku menjadi semakin parah. Terlebih, aku takut kalau penyakitku ini menular pada teman sekamarku. Pembimbingku menyarankan aku untuk pindah kos. Tapi aku tahu bahwa tidak semudah menjentikkan jari untuk mendapatkan kos baru yang bersih dan sehat. Polusi di udara Bogor pun turut memperparah kondisiku dengan banyaknya asap kendaraan di jalanan. Aku pun seorang aktivis salah satu UKM yang aku rela hingga larut malam atau dini hari mengikuti rapat. Aku senang melakukannya. Untuk berdiam di kos dan tidak datang ke UKM tersebut benar-benar menyiksaku. Akhirnya, aku memutuskan untuk mengambil cuti.

Bagian awal cuti adalah kondisi terparah dalam kehidupanku, seperti hidup segan, mati tak mau. Aku menghabiskan hari-hariku hanya dengan makan, tidur, dan mandi selama 2 bulan pertama aku di rumah. Aku benar-benar merasa waktu itu aku tidak "hidup". Udara sehat dan segar di sana membuat kondisiku lebih baik. Batukku tidak separah biasanya. Oh ya, waktu aku di Bogor, aku sempat sekali batuk berdarah. Setidaknya, selama di rumah, hal itu tidak pernah terjadi lagi. Berikutnya, aku mulai pulih dan tidak merasa lelah. Aku ingin memiliki kegiatan. Ya, aku senang karena teman-temanku di sana bersikap biasa dan tidak menunjukkan sikap menghindar. Itu menyenangkan. Aku mulai ikut latihan menari, ikut membantu di toko pakaian, dan bersih-bersih rumah dimulai dari kamarku, kamar kakakku, ruang tamu, kamar ortuku, dan toko baju. Ayahku selalu mengingatkanku untuk memakai masker. Kesehatanku semakin membaik dan akhirnya aku bisa kembali ke kuliahku di bulan September.

Saat aku kembali ke kampus bulan September, beratku sudah meningkat. Aku sudah menjalani pengobatan 6 bulan (tepatnya 8 bulan, dengan transisi), tetapi ternyata hasil rontgen menunjukkan masih ada noda TBC meskipun jauh lebih sedikit. Sebelumnya, kedua paruku terkena TBC. Rontgen berikutnya menunjukkan paru-paru kananku bersih, tetapi paru-paru kiriku belum. Aku mendapat tambahan perawatan 3 bulan. Setelah itu, aku mengucapkan selamat tinggal pada obat-obat itu dan kembali mengikuti kegiatan kampus dengan intensif. Setelah sekitar 2 bulan, aku mulai batuk lagi dan dada kiri serta tulang di punggung kiriku terasa sakit. Aku periksa lagi ke dokter dan ternyata TB ku yang belum lama hilang kembali muncul. Aku harus mengikuti pengobatan selama 6 bulan lagi. Aku ingat kakak kelasku mengingatkanku untuk rutin meminum madu untuk meningkatkan kekebalan tubuhku. Akhirnya, setelah itu aku dinyatakan benar-benar sembuh tanggal 31 Desember 2011. Benar-benar kondisi yang lama dengan obat-obat untuk membunuh Mycobacterium sp. itu. Akhirnya, aku sembuh dan mengalami peningkatan berat badan hingga 9,5 kg dari kondisi sakitku. Hal ini dikarenakan penyakit TB membuat penderitanya kehilangan berat badan secara signifikan. Untuk sembuh, selain mengkonsumsi obat dan multivitamin, diperlukan makan yang banyak, terutama kandungan protein. Dokter menyarankanku makan nasi 3-4 piring, susu beberapa gelas, dan telur beberapa butir selama pengobatan. Telur dapat diganti dengan makanan lain, seperti daging (sate, bakso) atau ikan serta ayam. 

Sekarang aku sudah dapat lepas dari obat-obat itu, tapi satu hal yang aku tahu, pada rontgen thorax-ku, akan tetap ditemukan suatu noda di paru-paru kiriku karena itu adalah bekas paru-paru saat aku mengeluarkan darah pada waktu batuk. Dokter bilang akan sulit bagiku mendapatkan pekerjaan di bidangku, yaitu teknologi industri pertanian, dengan kondisiku yang pernah TB. Tapi, who knows our future? Just God, and He can change impossible thing to be possible. 

Kesimpulan dari pengalamanku (maaf kalau tidak tepat 100%) adalah sebagai berikut.

Ciri-ciri penderita TB paru:
-batuk lebih dari 1 bulan, bunyi batuk cukup nyaring
-batuk tanpa dahak, tetapi mengeluarkan cairan encer agak putih atau batuk berdarah
-batuk dengan sakit di bagian perut hingga dada
-mudah merasa lelah
-sesak napas saat jalan di tempat menanjak
-sakit di bagian tulang belakang paru-paru
-berat tubuh menurun drastis
-hasil rontgen dan/atau tes dahak menunjukkan hasil positif TB

Pengobatan yang dapat dilakukan:
-pengobatan min 6 bulan
-minum obat sesuai dosis dan waktu
-mengurangi kegiatan yang berat
-menghindari angin dingin saat malam
-minum madu dan makan buah-buahan
-banyak makan (min 3 piring nasi sehari + bahan makanan protein + susu), tapi untuk susu harus jauh dari waktu minum obat
-hindari air dingin, air es, atau jenis es yang lain

Anjuran bagi penderita:
-tetap berpikir positif, tidak usah seperti aku yang lemah waktu itu, dan tidak usah berpikir yang tidak-tidak, intinya kamu pasti sembuh!
-tetap ceria
-tetap melakukan kegiatan, hanya saja intensitasnya ringan
-cukup istirahat
-terus berdoa
-lakukan tindakan pengobatan
-memakai masker
-tidak memakai barang untuk makan dan/atau minum bersama dengan orang lain
-tidak keluar rumah malam-malam

Anjuran bagi orang-orang di sekitar penderita (terutama keluarga dan teman dekat):
-tidak perlu menunjukkan keprihatinan yang berlebihan (itu membuat penderita tidak nyaman)
 -tidak memakai barang untuk makan dan/atau minum bersama dengan penderita
-tidak perlu menjauh atau menunjukkan takut tertular (itu menyakiti hati penderita)
-tetap menjaga kesehatan tubuh (orang tidak akan tertular TBC meskipun di dekat penderita, asalkan kekebalan tubuhnya tinggi dan baik)
-membantu mengingatkan penderita untuk meminum obat teratur dan makan
-bersikap seperti biasa
-menghibur, menguatkan, dan memberikan bahumu saat penderita menangis atau merasa takut dengan kondisinya
-tetap mengasihi penderita karena penderita membutuhkan kasih sayangmu, bukan rasa kasihanmu.

Semoga sharing ini bermanfaat!
Sumber tinjauan awal :
Abd. 2012. Tuberkulosis, Penyebab Kematian Tertinggi Setelah Stroke. http://www.sehatnews.com/2012/05/21/tuberkulosis-penyebab-kematian-tertinggi-setelah-stroke/ [diakses pada tanggal 30 Oktober 2012]

Selasa, Oktober 09, 2012

Pertemuan hari ini

Sekitar pukul 10 pagi hari ini, tiba-tiba dosen kedua saya menelepon untuk segera datang ke dept karena pak S sudah datang. Alhasil saya terburu-buru pergi ke dept menggunakan sarana yang menghasilkan emisi.

Di sana sudah ada pak S dan prof. EGS lalu kami membicarakan penelitian kami. Ternyata pak S sudah mengerjakan semua yang seharusnya saya kerjakan di Lampung. Oleh karena itu Prof. EGS memutar otak mencari apa yang bisa saya teliti sedemikian sehingga penelitian saya membantu penelitian pak S. Yang kurang dari penelitian pak S yang "excellent" adalah  feasibility study. Prof. EGS menanyakan saya apakah saya  mengerti dengan dalam mengenai FS tersebut dan spontan saja saya katakan tidak. Setelah itu, diputuskan saya tetap di bagian manajemen teknologi dengan melakukan perbandingan 3 teknologi (India, Eropa (Jerman), dan Indonesia. Setelah itu, penelitian dilanjutkan terkait dengan analisis investasi dan ini benar-benar lebih ke arah manajemen, bukan lingkungan. Saya diberi waktu 2 hari untuk mempelajari secara cepat dan melaporkan setelah satu minggu. Dan Prof.S dosen pertama saya sudah ada di situ saat Prof.EGS mengatakan hal itu.

Yang membuat saya terkesan, adalah pembicaraan kedua Prof. saya itu. Prof ke-2 mengatakan bahwa saya jadi tidak berat karena tidak harus ke Lampung karena ke Lampung membuat saya keberatan. Akan tetapi, Prof. ke-1 saya mengatakan bahwa itu tidak benar, karena saya senang waktu diberi tahu akan ke Lampung. Kenyataannya adalah Prof. ke-1 saya benar dan saya benar-benar terkesan karena beliau sangat mengerti saya. hahaha :D Saya memang senang waktu diberi tahu akan ke Lampung karena itu sudah saya inginkan sejak lama.

Pembicaraan lainnya adalah Prof. ke-2 saya meminta ijin untuk mengarahkan saya terlebih dulu, tetapi dengan porsi Prof. S 60%, Prof. EGS 40%. Prof. saya mengatakan kepada Prof. satunya untuk tidak sungkan hanya karena senioritas.

Prof. EGS mengatakan kepada saya bahwa pendidikan S-1 saya ini bisa dibilang "mahal" atau mungkin maksudnya "mewah" karena saya dibimbing oleh dua profesor, profesor muda dan profesor tua. Oleh karena itu, saya diharuskan gerak cepat dan wajib memberikan hasil penelitian yang baik dan memuaskan. Tugas yang harus ditanggung cukup berat, kata beliau. Ini membuat saya cukup tegang.

Yang lucu dari pertemuan kali ini adalah saat saya memasukkan fd saya ke laptop beliau. Lalu beliau menanyakan kenapa nama FD saya adalah Tania_Surya. Beliau mengira itu nama pacar saya. Saya memberitahukan bahwa itu adalah singkatan dari nama saya karena nama saya Derbie Octania Suryanto. Beliau mengira bahwa nama panggilan saya adalah Tania, dan menurut beliau nama itu lebih mudah daripada menyebutkan "Derbie". Ini membuat saya tersenyum.

Yah begitulah pertemuan hari ini. Saya sempat mendengar istilah yang agak unik yaitu "membunyikan" dan "menjual" karena konteksnya benar-benar berbeda dengan konteks kita memakai kedua kata itu pada umumnya.  Saya, walaupun agak sedih dan tegang, cukup senang dan bersyukur setelah mendengar cerita Pak S tentang bagaimana sulitnya beliau mendapatkan data-data tersebut. Selain jalan yang rusak, akses yang sulit, ternyata memasuki beberapa perusahaan tersebut tidak semudah saya memasuki perusahaan tempat saya PL. Itu terjadi bahkan di tempat teman dari bapak S menjabat sebagai manajer senior atau dengan link dari lawyer perusahaan tersebut. Bahkan bapak S harus meminta bantuan dinas pemantau perusahaan tersebut. Wah, beliau memang "excellent" bisa mendapatkan data dari tempat sesulit itu selama 5 bulan. Aku juga harus semangat membantu beliau dan membantu diri saya sendiri :D

Above all, Thanks God, You are the Only One who knows what I need :D

Kamis, September 27, 2012

Jujur atau .... ????

Dalam pertemuan itu, terdapat beberapa pertanyaan dari beberapa penanya mengenai kesepakatan yang kami buat. Mengenai menjawab pertanyaan dengan kebanyakan "YA". Bagaimana jika sebenarnya di lubuk hati kami, itu tidak 100% ya, mungkin hanya 90% atau bahkan 70%? 

Seringkali dalam kehidupan ini, kita dihadapkan pada banyak pilihan, termasuk pilihan dalam berkata-kata. Saat kita melaporkan sesuatu kepada seseorang atau suatu lembaga yang lebih tinggi dari seseorang atau lembaga yang kita nilai untuk dilaporkan, apakah kita akan jujur dengan konsekuensi yang tidak mengenakkan, atau mengingkari kebenaran untuk memuaskan pihak yang kita nilai? Sebagai wujud penghormatan, mungkin? atau mengenai ungkapan terima kasih karena kita telah terpilih dan diberi kesempatan untuk menilai? 

Yang saya tahu adalah terdapat dua tipe orang dalam kasus semacam itu.
1. Orang yang dengan mudah mengatakan apapun yang dimintanya tanpa rasa bersalah sama sekali, karena dia tahu tindakannya akan menguntungkan orang yang "dia bantu" sehingga ada peluang bahwa dia akan terbantu dan menerima penghormatan karena hal itu.
2. Orang yang terlalu jujur, sehingga diharuskan melakukan hal itu merupakan penyiksaan akan naluriah batinnya dan membuat dia merasa bersalah atau melakukannya dengan ragu-ragu atau ketakutan.

Dari 10 orang yang hadir, saya rasa 7 orang di antaranya termasuk pada kelompok pertama, sedangkan 3 orang lainnya pada kelompok kedua. Saya rasa saya cenderung masuk ke kelompok yang kedua. Orang-orang mungkin mengatakan terlalu jujur atau terlalu polos. Selain itu, ada pendapat juga bahwa kelompok orang yang semacam itu cenderung tidak mudah sukses. Sebenarnya, apakah arti sukses di situ?

Tidak bisa saya pungkiri bahwa dunia nyata, dunia kerja atau sejenisnya lebih banyak menggunakan kelompok pertama dalam praktik. Hal ini membuat saya berpikir bagaimana nanti saya harus bersikap? Kedua hal yang diperhadapkan untuk dipilih memiliki konsekuensi baik dan buruk. Dan saya tahu bahwa bukan hanya saya yang akan mengalami perang di dalam batin dalam memilih.

Lantas, setelah saya memaparkan ini, apakah itu berarti bahwa saya mengecam kelompok pertama dan mengunggulkan kelompok kedua? Tidak, sama sekali tidak. Saya tahu bahwa realita dalam dunia ini penuh dengan ketidakpastian dan ketidakmurnian. Yang saya harapkan dengan penulisan ini adalah saya bisa menyalurkan konflik internal sehingga pemikiran saya tidak tertahan di otak saya dan membebaninya dalam waktu yang lama.

Apapun yang dipilih oleh setiap orang adalah pilihannya, dan itu adalah setiap orang. Hanya saja, perlu dilakukan pertimbangan yang matang mengenai konsekuensi dan risiko yang ada, barulah mengambil keputusan. Just be your self!

Sabtu, September 22, 2012

Farewell

Farewell..

Farewell is a little thing to person who often go from one place to another..
Farewell is a must, and always be in this life..
Farewell, ya, I was often separated from another if I go or go home.. That's not any feeling significantly shown..


At this time, if I imagine what would happen then..
I don't think I like farewell..
If i remember what happened in the past,, it hurts me..
And when I imagine what I will feel again,, it hurts me more..
and my heart seems to go out,,
If we can't see each other anymore..


I realize that when he or she was near me, i didn't have always quality time together..
But, in deep of my heart, you -all of you- always be here.. in my heart..


When I have to say farewell to my sweetheart because another one, ya I regret it for the time being,,
but that's ok then because life is choosing..
that hurt gives no big effect on me..
because you are not my own..
It's different from she or he who being in my life as my brother and sister..


When my brother had to go, it made me sad so much..
I knew it's for his better life..
But i couldn't lie to myself that it's hurting..
When I could communicate frequently, it reduced my sadness..
But when rush came to block us,, i feel i want to cry loudly: please you go, rush!!!
When I can talk to him? hah?!


When my friend finish his study,, i know it's time to say, goodbye dear friend..
I know, I just friend for you..
You often make me smile, being disturbed, or being scolded,,
but it's ok..

No one ever tell me like what you tell.. No one is too brave to do like what you do to me..
When you come to your success, I am happy too..
But, once again, I can't lie, if you are dear in my heart,,
I can't imagine that I will never see you again..
How I will face this world without you? You and I know exactly that I will be able to survive,, but..
i will miss you so much..



When my roommate have to go away, back home,, and will not be my roommate anymore..
Ya, now I can freely do  everything i want to do, without thinking the other's feeling..
but, I think this room will so silent, without you -that tell me so much story,, or listen my story-, without you - to whom I can angry or get anger-, 
I know, many times we are not in the same opinion,.
Many times we cry..
But, there are more time we smile together, laugh together, and 'crazy' together..
I can't imagine, how I miss you then..
And I will miss your advice, if I forget to eat, forget to take a bath, forget to keep my health, or if I am so panic facing my problem..



farewell.. Why it's called that?
Because it has two word if we want to split: fare and well
Fare means "travel" (in verb) and well means "done good"
so, these farewell means you - all of you- go to done something good., so I will keep my smile in my face, and say ev'rything will be OK for you and for me..
But, I will always miss you.. Why it's called "miss"? Because miss means "lose"..
ya, I feel you are lost from my side.. so, i will meet you to treat my pain.. one day,, i will meet you again,,
Even if we can't meet again, you -all of you- have to know, that I'll always love you, so much, in my deepest heart...



-   dedicated for four most influential persons in my life and the most being thought (beside my dear parents)- today version -

Jumat, September 14, 2012

Jalan-jalan ke MB-IPB :D

Hari ini pengalaman pertamaku berkunjung ke MB-IPB. Apa itu MB-IPB? Ini adalah sekolah pascasarjana Manajemen dan Bisnis Institut Pertanian Bogor, yang terletak di Jalan Pajajaran Bogor.

Kunjungan ini dilakukan karena aku butuh informasi yang dapat diperoleh di tesis beberapa mahasiswa bimbingan dosen. Rencana berangkat pukul 7 dari Darmaga akhirnya ngaret seperti biasa, menjadi pukul 8.30. Aku pergi ke sana dengan ditemani seorang teman dekat, namanya S.K.Sitompul, dengan menggunakan sepeda motor.

Sesampainya di sana, kesan yang aku dapatkan adalah W.O.W. Meskipun terlihat sederhana dari luar, tetapi ternyata gedungnya keren. Kami memasuki gedung utama MB-IPB dan menyerahkan kartu tanda pengenal serta diberi tanda pengenal berupa nametag "Visitor". Dari meja resepsionis itu, akhirnya kami masuk melewati taman yang asri, dengan beberapa tempat duduk yang dapat digunakan untuk diskusi. Perpustakaan di sana ternyata ada dua, yaitu perpustakaan buku dan perpustakaan penelitian. Karena yang aku butuhkan adalah tesis, maka perpus yang dituju adalah perpus penelitian. Letaknya sebenarnya tidak jauh dari tempat fotocopy  dan dari tempat parkir motor. Sesampainya di sana, ternyata ada loker berupa rak untuk menaruh tas. Karena kami visitor, kami dikenakan biaya Rp5000,- per orang. Fasilitas perpustakaan hampir mirip dengan perpustakaan induk di IPB Darmaga. Bedanya, perpus penelitian ini cukup kecil. Walaupun kecil dan sederhana, suasananya sangat nyaman.

Hal yang cukup perlu diperhatikan saat membaca tesis di sini adalah tidak diperbolehkan menggunakan kamera foto untuk mengambil gambar. Akan tetapi, tetap saja ada yang mengambil foto menggunakan telepon selular. Saya sempat berniat untuk mem-foto copy tesis di situ, karena biasanya di perpustakaan LSI IPB Darmaga, hal seperti itu diperbolehkan dan cukup terjangkau. Akan tetapi, saya akhirnya tahu bahwa fotocopy di situ hanya bisa dilakukan melalui petugas, dengan tarif Rp2000,- per lembar. Itupun tidak dapat jadi saat itu juga, alias butuh waktu lama. Akhirnya, saya memutuskan untuk mencatat hal-hal yang saya butuhkan. Untungnya, teman saya, SKS, membantu saya dalam mencatat hal-hal yang saya perlukan.

Di akhir kunjungan, kami ingin ke toilet. Waktu ditanyakan ke orang yang ada di dekat kami, kami ditunjukkan jalan ke toilet. Untungnya, kami membaca dulu. Toilet yang di sebelah kanan itu, ternyata toilet pria. Toilet wanita ada di sebelah kiri, jika kita datang dari arah perpus penelitian. Di situ, fasilitasnya cukup nyaman. Ada bakiak yang disediakan sehingga kebersihannya terjaga. Di akhir, kami menyerahkan nametag dan mengambil lagi kartu tanda pengenal kami. FYI, parkir motor di sini gratis :D

Begitulah kisah kunjungan singkat kami hari ini.

DO Suryanto dan SK Sitompul

Selasa, September 11, 2012

As long as I live..

I am an undergraduate student now. It will end soon after I finish this study by doing experiment. I know, study in my life will also get the end. I don't know when it will be. But, soon or later I will.

In this three years,  I got some trouble in my health. I think it was so painful for me. Every time I remembered it, I felt my tears would come down. My big trouble came in 2010. I got TBC. It was painful for me. Why? It's not just because of my physics pain, but also my psychics. I got difficulty in breathing and also got some annoying treatment. When I got cough, I saw my lecture was disturbed and so were my friends. I thought I get refusal from them indirectly so I took a decision to take a break from my study. Of course, it was also because I couldn't focus on the study. At the next time after that, I got a long treatment with those medicines and roentgens. Finally, doctor said that I am free from Mycobacterium tuberculosis. That was the end of the last year. It made me happy, of course.

I thought I won't get other trouble in my health. But, I was wrong.  Some days ago, or weeks, I got some trouble. Twice or more I got big headache so I couldn't feel the earth. I felt that everything become very light (not heavy). But, it's ok. At another time, I had a big kick in my stomach so I was not able to stand up. Another stomachache I got at the left side if i sat down while ironing my clothes for a long time. I thought I still could overcome these sickness. But, at about one week ago, I got an odd form in my body. It made me difficult to walk. Two days ago, it was smaller than before. But at the opposite side, I got another odd form bigger than the one. I was scared and anxious, but I could do nothing. It was very very painful. I got difficulty to sleep because of this term. Moreover, my backbone felt so sick. But, thanks God, today my condition is better.

If you read those statement, maybe you will think that I am a very weak person or I am a person who think just about the bad thing I got. But, I will tell you, I am not. I know, maybe I weak, very weak. But, I have a great God named Jesus Christ, my savior. He is always beside me and always give me more strength to survive. I know those weakness in my body, and I don't know when I will leave this world. But, as long as i live... I will do the best I can. Yes, I will.

This is one song (in Indonesian, of course) to make me strong at those condition:

Tuhan, hanya kepadaMu ku dapat s'lalu berharap
Kau tak 'kan pernah membiarkan ku bergumul sendirian

Di dalam kelemahanku, kuasaMu jadi sempurna
Kau tak 'kan pernah tinggal diam untuk memb'ri pertolongan

Tuhanku berkuasa untuk melakukan perkara yang besar
Dia ajaib bagiku
Tuhanku berkuasa untuk memberikan kemenangan besar di dalam hidupku..

Minggu, September 09, 2012

#KutipKutipPuisi#LupaNamaPengarangnya#

Untuk yang merasa, ini hasil karyanya, saya minta maaf sebelumnya karena tidak bisa mencantumkan namanya. Saya lupa. Yang saya tahu, ini dari buku "Menggapai Bintang". Kata-katanya bagus dan saya ingin mengutipnya, meskipun saya tahu ini adalah buku bacaan Muslim, sementara saya beragama Kristiani. Saya merasa unsur dalam karya ini tidak terlalu mengandung SARA, sehingga bolehlah saya mengutipnya. Terima kasih dan maaf sebelumnya.

Bukanlah kesabaran jika berbatas
Bukanlah keyakinan jika masih ada kebimbangan
Sekali lagi kenapa kau ragu terhadap perjuangan ini?
Bukankah Allah sudah berjanji Dia akan menguatkan kamu jika kamu bersabar
Bersabarlah dalam proses kehidupan

Ingatkah kau akan kupu-kupu yang indah
Bukankah dia lama dalam fase kepompongnya
Ingatkah kau akan Siti Hajar
Ketegaran dia hidup sendirian di padang gersang
Katanya kau ingin sekuat Siti Hajar?

Bukankah kau telah berucap
Akan setia di jalan ini
Mengikatkan janji perjuangan
Kenapa sekarang berputus asa?
Padahal, tinggal beberapa tangga lagi yang akan kau akhiri

Ingatkah kau?
Bahwa intan itu tercipta dengan tekanan dan suhu tinggi
Katanya ingin segemilang intan?
Maju...maju...maju
Atau kau akan terlindas oleh zaman.